Rabu, 26 September 2012
Selasa, 04 September 2012
PKM-AI Bakteri Bambu
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
EFEKTIF
MIKROORGANISME BAMBU
(EMB) SEBAGAI AKTIFATOR PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK DALAM
PENGOMPOSAN
BIDANG KEGIATAN
PKM ARTIKEL ILMIAH
DIUSULKAN OLEH:
Nawaruddin 1106114845 (2011)
Kiki Ardianto 1106121239 (2011)
Nurul Ika Kartika 1106114457 (2011)
Junter Sr Sihite 1106114203 (2011)
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012
HALAMAN
PENGESAHAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
1.
Jenisan kegiatan
: Efektif Mikroorganisme bambu (EMB) Sebagai Aktivator Pengolahan
Sampah Organik Dalam Pengomposan.
2. Bidang
kegiatan : (X) PKM-AI ( ) PKM-GT
3. Ketua
Pelaksana Kegiatan
a. Nama
Lengkap : Nawaruddin
b. NIM : 1106114845
c. Jurusan : Agroteknologi
d. Universitas : Universitas Riau
e. Alamat
Rumah dan NoTelp : Jl. Melati Gg. Seruna No.23
f. Alamat
Email : Nawarudysta@yahoo.co.id
4. Anggota
Pelaksana Kegiatan : 4 Orang
5.
Dosen Pendamping
a.
Nama Lengkap dan Gelar : Ir. Gunawan Tabrani, Mp.
b.
NIP : 195803121986011005
c.
Alamat Rumah dan No Telp/HP : Griya
Kutilang Permai B-42
Jl. Kutilang Sakti Kel. Simpang Baru Kec. Tampan Pekanbaru
28293. HP : 08127609781
Pekanbaru,
-Mei-2012
Menyetujui
Ketua
Jurusan/Program Studi Ketua Pelaksana Kegiatan
(_Ir. Ardian_) ( _Nawaruddin_
)
NIP. 196008091987031002
NIM. 1106114845
Wakil Rektor Bidang Dosen Pendamping
Kemahasiswaan
(_Drs. Rahmat, MT_) (_Ir. Gunawan Tabrani, Mp)
NIP.
NIP. 195803121986011005
EFEKTIF MIKROORGANISME BAMBU (EMB) SEBAGAI
AKTIFATOR PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK DALAM PENGOMPOSAN
Nawaruddin,
Kiki Ardianto, Nurul Ika Kartika, Junter Sr Sihite
Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian
Universitas Riau
ABSTRAK
EMB
(Efektif Mikroorganisme Bambu) adalah sejenis mikroorganisme yang terdapat pada
serasah bambu yang dapat digunakan sebagai biodekomposer dan aktifator untuk
mempercepat penguraian sampah organik.
Sampah
merupakan masalah yang klasik yang belum mendapatkan solusi yang baik.
Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan kurangnya kesadaran masyarakat
terhadap sampah membuat masalah ini berlarut – larut. Sampah yang terbanyak
adalah sampah organik dengan komposisi 60-70% dari total keseluruhan jenis
sampah (Dephut, 2009). Teknologi pengomposan dengan aktifator
akan mempercepat proses dekomposisi sampah menjadi kompos, namun produk
aktifator di pasaran relatif mahal dan diperlukan dalam jumlah
banyak sehingga biaya yang dikeluarkan besar. Jika tidak menggunakan aktifator
maka proses pengomposan akan berjalan lambat dan memakan waktu sehingga
membutuhkan alternatif lain untuk dapat mempercepat proses pengomposan
dengan waktu yang relatif singkat dengan biaya yang terjangkau.
Kata
kunci: Sampah, aktifator, kompos
PENDAHULUAN
Seiring meningkatnya
jumlah penduduk di dunia, maka akan meningkatkan aktifitas penduduk dalam
memenuhi kebutuhannya dari mulai sandang, pangan dan papan. Ini akan
menimbulkan masalah karena sampah dari sisa konsumsi masyarakat menyebabkan
kerugian bagi lingkungan, Di negara-negara berkembang komposisi sampah
terbanyak adalah sampah organik,sebesar 60 – 70%, dan sampah anorganik sebesar
± 30% (Dephut, 2009). Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari
perkembangan dan kemajuan pertanian. perkembangan dan kemajuan pertanian akan
memenuhi kebutuhan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sampah
organik dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti komposyang akan
berguna dalam memelihara kesuburan tanah, menambah lapisanhumus tanah, mengikat
tanah dan sebagai pasokan hara atau nutrisi bagitanaman di sekitar lingkungan
sendiri seperti taman di perumahan, hotel danrestoran. Kompos dapat juga dijual
ke petani, atau konsinyasi ke pedagangtanaman hias sepanjang jalan di
perkotaan, pemilik taman, kalangan hobiestanaman dan bunga serta pengusaha
perkebunan ( Saleh A Ibrahim, 2008)
Untuk memenuhi
kebutuhan manusia perlu dilakukannya peningkatan produksi tanaman. Selain
peningkatan produktivitas tanaman, pertanian juga harus mengahasilkan produk
yang sehat bebas dari bahan-bahan yang dapat membahayakan kesehatan tubuh
manusia.
Salah satu cara
tersebut ialah melalui pemanfaatan agen hayati berupa cendawan dan bakteri. Efektif
Mikroorganisme Bambo (EMB) merupakan solusi atas terciptanya kegiatan pertanian
yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan sampah-sampah organik.
TUJUAN
Penulisan artikel ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui:
ü Pemanfaatan
mikroorganisme pada serasah daun bambu sebagai biodekomposer sampah
organik.
ü Seberapa besar pengaruh mikroorganisme tersebut
dalam mengurangi masalah sampah yang justru bisa dimanfaatkan untuk pengembangan di
bidang pertanian.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian dan
penulisan karya tulis ilmiah ini dilaksanakan pada bulan Mei s/d Juni 2012 bertempat
di kampus Fakultas Pertanian Universitas Riau. Studi pustaka dilakukan di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Riau, pusat informasi pertanian organik OISCA Sukabumi dan
Internet.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah box
kayu, ember, toples, spatula, dan ember plastik. Sedangkan bahan yang digunakan
diantaranya adalah serasah daun bambu, nasi, dan molase (air gula).
Metode Kegiatan
Metode yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini
ada dua tahapan, diantaranya pembuatan EMB induk dan aplikasi EMB dalam
decomposer sampah organik menjadi kompos.
Pembuatan EMB
induk
Perkembangbiakan
mikroorganisme ini dapat dilakukan dengan melalui langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Nasi sebanyak 500 gram dibentuk bola menjadi
bulatan sebesar kepalantangan.
2. Nasi tersebut diletakkan pada kotak dengan alas
tanah dari bawah pohon bambu dan ditutupi oleh serasah daun bambu sampai
tertutup semuanya.
3. Nasi yang telah ditutupi oleh seresah itu
didiamkan selama 3 hari sampai nasi tersebut ditumbuhi jamur dan mempunyai bau
yang khas mirip tape.
4. Nasi yang sudah ditumbuhi jamur dimasukkan ke
dalam toples.
5. Toples yang berisi nasi yang sudah
difermentasikan diberikan molase agar mikroorganisme di dalam nasi dapat
berkembang.
6. Toples tersebut didiamkan selama 6 - 7 hari
7. Indukan siap dipakai.
Aplikasi EMB Dalam
Pengomposan
Dalam proses pengomposan, EMB dalam bentuk cairan di
aplikasikan dengan cara penyiraman pada bahan organik yang akan dijadikan
kompos secara merata. Untuk satu liter EMB cair dapat digunakan dalam pembuatan
sekitar 20kg kompos.
PEMBAHASAN
Mikroorganisme pada serasah daun bambu juga dapat
dikomersilkan menjadi pupuk cair maupun kompos yang tentu dapat menyuburkan
tanah dan meningkatkan produktifitas komoditas pertanian Indonesia.
Mikroorganisme pada serasah daun bambu dapat
dikembangkan sebagai biodekomposer dari sampah organik. Mikroorganisme
tersebut adalah Saccharomyces Cerrevisiae
dan Lactobacillus sp serta jamur Aspergillus sp. Mikroorganisme
tersebut dapat mengurai sampah organik menjadi pupuk organik yang dapat
menyuburkan tanah. Pupuk ini hanya membutuhkan waktu seminggu dalam pembuatannya
karena mikroba ini mampu memfermentasikan bahan organik dalam waktu cepat dan
menghasilkan senyawa organik, seperti protein, gula, asam laktat, asam amino,
alkohol, dan vitamin. (Pikiran Rakyat, 2008). Mikroorganisme tersebut mempunyai
keunggulan masing – masing dalam mengurai sampah organik maupun perannya untuk
menyuburkan tanah.Menurut Setyo dan Nurhidayat (2008), keunggulan dari
mikroorganisme ini adalah:
1. Bakteri Asam Laktat ( Lactobacillus sp)
Bakteri ini berjasa dalam membantu mempercepat
perombakan bahan organik (seperti lignin dan selulosa). Selain itu, dapat menekan pertumbuhan
mikroorganisme jahat yang biasanya muncul dari pembusukan bahan organik. Jadi,
bakteri ini membantu membuat proses fermentasi di dalam kotak kompos menjadi
lebih "sehat" dan lebih cepat
a.
Menghasilkan asam laktat dari gula
b.
Menekan pertumbuhan jamur yang merugikan, seperti Fusarium sp.
c.
Mempercepat penguraian bahan – bahan organik.

Gambar 1. Bakteri Lactobacillus sp
2. Saccharomyces cerrevisiae
Memiliki ukuran sel yang bervariasi. Sel vegetatif
yang berbentuk bulat. Reproduksi dapat dengan pembelahan tunas, pembelahan sel,
pertunasan sel, atau dengan pembentukan spora aseksual yakni blastospora,
khlamidospora, arthospora. Saccharomyces
bereproduksi dengan cara pertunasan, tempat melekatnya tunas pada induk sel
sedemikian kecilnya, sehingga seolah-olah tidak terbentuk septa, karena septa
yang terbentuk sangat kecil tidak dapatterlihat dengan mikroskop biasa.
a.
Membentuk zat anti bakteri
b.
Meningkatkan jumlah sel akar dan perkembangan akar.

Gambar 2. Saccharomyces Cerrevisiae
3. Jamur Fermentasi (Aspergillus sp)
Jamur ini ada yang hidup sebagai saprofit atau
parasit. Jamur yang hidup parasit dapat menimbulkan penyakit pada manusia,
hewan, dan tumbuhan.Penyakit yang disebabkan oleh Aspergillus sp Disebut aspergilosis. Jamur inidapat tumbuh di
daerah yang beriklim subtropis dan tropis. Bila dalam keadaan lembab, maka
dapat hidup pada makanan, pakaian, buku, dan kayu. Koloni jamur ini
biasanya berwarna hitam, abu-abu, kuning hingga coklat. Manfaat jamur ini:
a.
Menguraikan bahan organik (selulosa, karbohidrat) dan mengubahnya menjadi alkohol, ester, dan antimikroba.
b. Dapat menghilangkan bau.

Gambar 3. Jamur Aspergillus sp
KESIMPULAN
Mikroorganisme
pada serasah daun bambu dapat bermanfaat sebagai biodekomposer sampah organik
menjadi pupuk kompos yang kaya akan unsur hara dan berguna menyuburkan tanah.
Mikroorganisme serasah daun bambu dapat membantu
mengurangi masalah sampah dengan proses tertentu sehingga menghasilkan kompos
yang bermanfaat dalam kegiatan pertanian, karena mikroorganisme ini terbukti
dapat mendekomposisi sampah organik sehingga sampah organik dapat
tereduksi akibat interaksi mikroorganisme tersebut.
Ucapan Terima Kasih
Dalam
penyusunan Artikel Ilmiah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Tuhan Yang Maha
Esa
2.
Dosen pembimbing, Bapak Ir.
Gunawan Tabrani, Mp.
3.
Sahabat-sahabat di OISCA Sukabumi yang
telah benyak memberikan masukan mengenai pembuatan artikel ini.
4.
Teman-teman dan abang-abang mahasiswa
Fakultas Pertanian Universitas Riau yang telah memberikan semangat serta
dukungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Isroi. 2008. KOMPOS.
Makalah. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor
http://plhspensa.blogspot.com/2007/09/penanganan sampah.htmlhttp://plhspensa.blogspot.com/2007/09/penanganan-sampah.html
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_4htm
(http://isroi.wordpress.com/2008/02/25/aplikasi-trichoderma-harzianum-dan-aspergillus-sp-pada-tanaman/#more-61)
http://id.wikipedia.org/wiki/bambu
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas makalah/mikrobiologi/morfologimikrob-morfologi-mikroskopis-dan-makroskopis-jamur_hendra_eka_puspita,2008
http://plhspensa.blogspot.com/2007/09/penanganan-sampah.htmlhttp://plhspensa.blogspot.com/2007/09/penanganan-sampah.htmlOleh
: Suci Rahayu *)
Langganan:
Postingan (Atom)