LAPORAN PRAKTIKUM KOMUNIKASI
PERTANIAN
“Participatory Rural Appraisal (PRA)”
Focus Group Discussion ( FGD ) DI DESA SIALANG KUBANG
KECAMATAN PERHENTIAN RAJA
KABUPATEN KAMPAR

Oleh:
Fitriani Abidin 1106114615
Nawaruddin 1106114845
Nurul Ika Kartika 1104114457
Syahputra 1106135889
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil
menyelesaikan laporan ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul
“Participatory
Rural Appraisal (PRA)”
Laporan ini berisikan tentang FGD
(Foccus Group Discussion) petani lele
Desa Sialang Kubang Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar
dan membahas permasalahan - permasalan
yang di alami peternak ikan lele dalam melakukan budidaya. Hasil FGD dalam
laporan ini diharapkan berguna bagi petani dalam mengembangkan produksi ikan
lele serta membuka cakrawala peternak dalam budidaya lele.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai
akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Pekanbaru, 20 Desember 2012
Penyusun
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................. i
DAFTAR ISI..............................................................................................
ii
DAFTAR
TABEL..................................................................................... iii
I. PENDAHULUAN.................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2. Tujuan........................................................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 3
2.1.
Pengertian Participatory Rural Appraisal
(PRA)........................ 3
2.2.
Penerapan Metode PRA.............................................................. 3
2.3.
Tujuan Penerapan Metode PRA.................................................. 5
2.4.
Prinsip-Prinsip PRA..................................................................... 5
2.5.
Struktur Program......................................................................... 9
2.6.
Permasalahan PRA...................................................................... 10
2.7.
Teknik-Teknik PRA..................................................................... 11
III.
PEMBAHASAN.................................................................................. 12
3.1. Hasil............................................................................................. 12
3.2.
Pembahasan................................................................................. 13
BAB
IV PENUTUP................................................................................... 14
4.1. Kesimpulan.................................................................................... 14
4.2. Saran.............................................................................................. 14
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR
TABEL
Tabel Halaman
01.
Pendekatan-pendekatan untuk memajukan
partisipasi..................... 4
02. Hasil
Analisis Focus Group Discussion...........................................
12
I.PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses yang mengembangkan
dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk terus terlibat dalam proses pembangunan
yang berlangsung secara dinamis sehingga masyarakat dapat menyelesaikan masalah
yang dihadapi serta dapat mengambil keputusan secara bebas (independent) dan
mandiri (Oakley, 1991; dan Fatterman, 1996). Manusia memiliki berbagai daya,
yakni daya atau kekuatan berfikir, bersikap, dan bertindak. Daya-daya itulah
yang harus ditumbuhkembangkan pada manusia dan kelompok manusia agar tingkat
berdayanya optimal untuk mengubah diri dan lingkungannya. Pemberdayaan
masyarakat pada hakekatnya adalah sama dengan pembangunan masyarakat. Beberapa
pendekatan dalam pembangunan masyarakat yang berkembang antara lain:
1. Pendekatan
pada masyarakat secara menyeluruh. Pendekatan ini menuntut partisipasi yang
luas, masyarakat sebagai konsep sentral, serta memerlukan pendekatan holistik.
2. Pendekatan
berdasarkan kemandirian.
3. Pendekatan
pemecahan masalah tertentu.
4. Pendekatan
demonstratif.
5. Pendekatan
eksperimental.
6. Pendekatan
konflik kekuasaan.
Konsep pemberdayaan masyarakat dalam pandangan
UNICEF (1997) pendekatannya bertumpu pada risiko di keluarga, kebutuhan dan
hak-haknya dalam rangka menentukan prioritas dan strategi pembangunan. tingkat
kematian ibu yang tinggi, kekeurangan gizi ibu dan anak, rendahnya tngkat
pendidikan / kualitas pendidikan yang rendah, penyakit HIV / AIDS dan
psikotropika, serta anak-anak yang memerlukan upaya perlindungan khusus
merupakan lima masalah pkkok yang selalu bergantian.Hasil kajian UNICEF menunjukkan
bahwa intervensi paling strategis adalah pada kelompok remaja, kelompok yang
menempati posisi terbesar dari penduduk negara kita. Dalam pertimbangan sosial
dan ekonomi, kelompok remaja (10-19 tahun) merupakan kelompok yang akan
memasuki pasar kerja, sehingga potensinya untuk menjadi pekerja yang disiplin,
terampil dan fleksibel harus dimaksimalkan.
1.2
Tujuan
Untuk mengetahui permasalahan Petani
lele pada lokasi suatu
daerah tertentu
menurut masyarakat setempat,
yang bertujuan untuk membuat
kegiatan atau program tertentu yang dapat
dijadikan sebagai solusi atas pemecahan permasalahan yang terjadi di daerah
tersebut dengan teknik FGD (Foccus Group
Discussion).
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Pengertian Participatory Rural Appraisal (PRA)
PRA
yang dikembangkan oleh Robert Chamber lebih ditunjukkan untuk orang luar,
bagaimana srharusnya orang luar yan gmembantu masyarakat untuk mengembangkan
dirinya, mendudukan posisinya ditengah-tengah masyarakat. Orang luar ini bisa
para pegawai pemerintah, anggota LSM, orang-orang Perguruan Tinggi dll. PRA itu
sendiri menurutnya adalah metode yang mendorong masyarakat pedesaan/pesisir
untuk turut serta meningkatkan pengetahuan dan menganalisa kondisi mereka
sendiri, wilayahnya sendiri yang berhubungan dengan hidup mereka sehari-hari
agar dapat membuat rencana dan tindakan yang harus dilakukan, dengan cara
pendekatan berkumpul bersama.
2.2. Penerapan Metode PRA
Participatory Rural Appraisal (PRA) atau
Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan (PRA) adalah pendekatan dan metode yang
memungkinkan masyarakat secara bersama-sama menganalisis masalah kehidupan
dalam rangka merumuskan perencanaan dan kebijakan secara nyata. Metode dan
pendekatan ini semakin meluas dan diakui kegunaannya ketika paradigma
pembangunan berkelanjutan mulai dipakai sebagai landasan pembangunan di
negara-negara sedang berkembang. Dalam paradigma pembangunan berkelanjutan,
manusia ditempatkan sebagai inti dalam proses pembangunan. Manusia dalam proses
pembangunan tidak hanya sebagai penonton tetapi mereka harus secara aktif ikut
serta dalam perencanaa, pelaksanaan, pengawasan dan menikmati hasil
pembangunan. Metode dan pendekatan yang tampaknya sesuai dengan tuntutan
paradigma itu adalah metode dan pendekatan yang partisipatif. Metode PRA mulai
menyebar dengan cepat pada tahun 1990-an yang merupakan bentuk pengembangan
dari metode Pemahaman Cepat Kondisi Pedesaan (PCKP) atau Rapid Rural
Appraisal (RPA) yang menyebar pada tahun 1980-an. Kedua metode tersebut
saling berhubungan erat dan masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya
dan bisa saling melengkapi.
Tabel 1.
Pendekatan-pendekatan untuk memajukan partisipasi
1
|
Partisipasi Pasif, pelatihan
dan informasi
|
Pendekatan "kami
lebih tahu apa yang
baik bagimu"
|
Tipe komunikasi satu arah seperti antara guru dan
muridnya yang diterapkan diantara staf proyek dan
masyarakat setempat pada saat kunjungan ke desa.
Paket-paket teknis yang berbeda diiklankan kepada
masyarakat untuk menerimanya
|
2
|
Sesi partisipasi aktif
|
Pendekatan
"pelatihan dan
kunjungan"
|
Dialog dan komunikasi dua arah memberikan
kepada masyarakat kesempatan untuk berinteraksi dengan penyuluh / petugas dan pelatih dari luar.
|
3
|
Partisipasi dengan
keterikatan
|
Pendekatan "kontrak,
tugas yang dibayar": bila Anda melakukan ini, maka proyek
akan melakukan itu.
|
Masyarakat setempat, baik sebagai pribadi ataupun
kelompok kecil, diberikan pilihan untuk terikat
pada sesuatu dengan tanggungjawab atas setiap kegiatan pada masyarakat dan juga pada proyek.
Model ini memungkinkan untuk beralih dari model
klasik ke model yang diberi subsidi, panitia
setempat bertanggungjawab atas
pengorganisasian dan pelaksanaan tugas. Manfaatnya, dapat dibuat
modifikasi seiring tujuan yang diinginkan.
|
4
|
Partisipasi atas permintaan
setempat
|
Pendekatan PRA dan kegiatan penelitian, pendekatan yang
didorong oleh
permintaan
|
Kegiatan proyek lebih berfokus pada menjawab
kebutuhan yang dinyatakan oleh masyarakat
setempat, bukan kebutuhan yang dirancang dan
disuarakan oleh orang luar. Kegiatan bukanlah
proyek yang tipikal; tidak ada jadual untuk
intervensi fisik; tidak ada anggaran untuk suatu
periode tertentu; tidak ada rencana pelaksanaan
atau struktur proyek; dan tidak ada komando satu
arah dari proyek kepada kelompok sasaran.
Masalahnya: bagaimana masyarakat setempat dapat memberi perhatian terhadap sesuatu yang baru dan
berbeda, apabila sebelumnya mereka tidak
mengetahui apapun mengenai apa yang akan terjadi. Metode yang dipakai adalah motivasi dan
animasi, bukan 'menjual atau mendorong'.
Pertanyaan sukarela dan permintaan untuk bantuan
serta lebih banyak informasi jelas diperlukan.
|
Namun dalam perkembangannya, metode PRA banyak digunakan
dalam proses pelaksanaan program pembangunan secara partisipatif, baik pada
tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pengawasannya.
2.3. Tujuan
Penerapan Metode PRA
Pada intinya PRA adalah sekelompok pendekatan atau
metode yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi, meningkatkan,
dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa, serta
membuat rencana dan tindakan nyata (Chambers, 1996). Beberapa prinsip dasar
yang harus dipenuhi dalam metode PRA anatara lain adalah : saliang belajar dan
berbagi pengalaman,keterlibatan semua anggota kelompok dan informasi, orang
luar sebagai fasilitator, konsep triangulasi, serta optimalisasi hasil,
orientasi praktis dan keberlanjutan program (Rochdyanto, 2000:55). Metode
tersebut dipandang telah memiliki teknis-teknis yang dijabarkan cukup
operasional dengan konsep bahwa keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam
seluruh kegiatan. Pendekatan PRA memang bercita-cita menjadikan masyarakat
menjadi peneliti, perencana, dan pelaksana pembangunan dan bukan sekedar obyek
pembangunan. Tekanan aspek penelitian bukan pada validitas data yang diperoleh,
namun pada nilai praktis untuk pengembangan program itu sendiri. Penerapan
pendekatan dan teknik PRA dapat memberi peluang yang lebih besar dan lebih
terarah untuk melibatkan masyarakat. Selain itu melalui pendekatan PRA akan
dapat dicapai kesesuaian dan ketepatgunaan program dengan kebutuhan masyarakat
sehingga keberlanjutan (sustainability) program dapat terjamin.
2.4.
Prinsip-Prinsip PRA
1. Saling
belajar dari kesalahan dan berbagi pengalaman dengan masyarakat.
Prinsip dasar PRA bahwa PRA adalah dari,
oleh, dan untuk masyarakat. Ini berarti bahwa PRA dibangun dari pengakuan serta
kepercayaan masyarakat yang meliputi pengetahuian tradisional dan kemampuan masyarakat
untuk memecahkan persoalannya sendiri. Prinsip ini merupakan pembalikan dari
metode pembelajaran konvensional yang bersifat mengajari masyarakat. Kenyataan membuktikan
bahwa dalam perkembangannya pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat tidak
sempat mengejar perubahan yang terjadi, sementara itu pengetahuan modern yang
diperkenalkan orang luar tidak juga selalu memecahkan masalah. Oleh karenanya diperlukan
ajang dialog di antara ke duanya untuk melahirkan sesuatu program yang lebih
baik. PRA bukanlah suatu perangkat teknik tunggal yang telah selesai, sempurna,
dan pasti benar. Oleh karenanya metode ini selalu harus dikembangkan yang
disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Kesalahan yang dianggap tidak wajar,
bisa saja menjadi wajar dalam proses pengembangan PRA. Bukannya kesempurnaan
penerapan yang ingin dicapai, namun penerapan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan
yang ada dan mempelajari kekurangan yang terjadi agar berikutnya menjadi lebih
baik. Namun PRA bukan kegiatan coba-coba (trial and error) yang tanpa
perhitungan kritis untuk meminimalkan kesalahan.
2. Keterlibatan
semua anggota kelompok, menghargai perbedaan, dan informal.
Masyarakat bukan kumpulan orang yang
homogen, namun terdiri dari berbagai individu yang mempunyai masalah dan kepentingan
sendiri. Oleh karenanya keterlibatan semua golongan masyarakat adalah sangat
penting. Golongan yang paling diperhatikan justru yang paling sedikit memiliki
akses dalam kehidupan sosial komunitasnya (miskin, perempuan, anak-anak, dll).
Masyarakat heterogen memiliki pandangan pribadi dan golongan yang berbeda. Oleh
karenanya semangat untuk saling menghargai perbedaan tersebut adalah penting
artinya. Yang terpenting adalah pengorganisasian massalah dan penyusunan
prioritas masalah yang akan diputuskan sendiri oleh masyarakat sebagai
pemiliknya. Kegiatan PRA dilaksanakan dalam suasana yang luwes, terbuka, tidak
memaksa, dan informal. Situasi santai tersebut akan mendorong tumbuhnya
hubungan akrab, karena orang luar akan berproses masuk sebagai anggota bukan
sebagai tamu asing yang harus disambut secara protokoler. Dengan demikian
suasana kekeluargaan akan dapat mendorong kegiatan PRA berjalan dengan baik.
3. Orang
luar sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai pelaku.
Konsekuensi dari prinsip pertama, peran
orang luar hanya sebagai fasilitator, bukan sebagai pelaku, guru, penyuluh,
instruktur, dll. Perlu bersikap rendah hati untuk belajar dari masyarakat dan
menempatkannya sebagai nara sumber utama. Bahkan dalam penerapannya, masyarakat
dibiarkan mendominasi kegiatan. Secara ideal sebaiknya penentuan dan penggunaan
teknik dan materi hendaknya dikaji bersama, dan seharusnya banyak ditentukan
oleh masyarakat.
4. Konsep
triangulasi
Untuk
bisa mendapatkan informasi yang kedalamannya dapat diandalkan, bisa
digunakan konsep triangulasi yang
merupakan bentukpemeriksaan dan pemeriksaan ulang (check and recheck).
Triangulasi dilakukan melalui penganekaragaman keanggotaan tim (disiplin ilmu),
sumber informasi (latar belakang golongan masyarakat, tempat), dan variasi
teknik.
a. Penggunaan variasi
dan kombinasi berbagai teknik PRA, yaitu
bersama masyarakat bisa
diputuskan variasi dan kombinasi teknik PRA yang paling tepat sesuai dengan proses
belajar yang diinginkan dan cakupan informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan
program.
b. Menggali berbagai
jenis dan sumber informasi, dengan mengusahakan kebenaran data dan informasi
(terutama data sekunder) harus dikaji ulang dan sumbernya dengan
menggunakan teknik
lain.
c. Tim PRA yang
multidisipliner, dengan maksud sudut pandang yang berbeda dari anggota tim akan
memberi gambaran yang lebih menyeluruh terhadappenggalian informasi dan memberi
pengamatan mendalam dari berbagai sisi.
5. Optimalisasi
hasil
Pelaksanaan
PRA memerlukan waktu, tenaga narasumber, pelaksana yang terampil, partisipasi
masyarakat yang semuanya terkait dengan dana. Untuk itu optimalisasi hasil
dengan pilihan yang menguntungkan mutlak harus dipertimbangkan. Oleh karenanya
kuantitas dan akurasi informasi sangat diperlukan agar jangan sampai kegiatan
yang berskala besar namun biaya yang tersedia tidak cukup.
6. Berorientasi
praktis
Orientasi
PRA adalah pemecahan masalah dan pengembangan program. Dengan demikian
dibutuhkan penggalian informasi yang tepat dan benar agar perkiraan yang tepat
akan lebih baik daripada kesimpulan yang pasti tetapi salah, atau lebih baik
mencapai perkiraan yang hampir salah daripada kesimpulan yang hampir benar.
7. Keberlanjutan
program
Masalah
dan kepentingan masyarakat selalu berkembang sesuai dengan perkembangan
masyarakat itu sendiri. Karenanya, pengenalan masyarakat bukan usaha yang
sekali kemudian selesai, namun merupakan usaha yang berlanjut. Bagaimanapun
juga program yang mereka kembangkan dapat dipenuhi dari prinsip dasar PRA yang digerakkan
dari potensi masyarakat.
8. Mengutamakan
yang terabaikan
Prinsip
ini dimaksudkan agar masyarakat yang terabaikan dapat memperoleh kesempatan
untuk berperan dan mendapat manfaat dalam kegiatan program pembangunan. Keperpihakan
pada pihak atau golongan masyarakat yang terabaikan bukan berarti bahwa
golongan masyarakat lainnya (elite masyarakat) perlu mendapat giliran untuk diabaikan
atau tidak diikutsertakan. Keberpihakan ini lebih pada upaya
untuk mencapai
keseimbangan perlakuan terhadap berbagai golongan dan lapisan yang ada di
masyarakat, dengan mengutamakan golongan paling miskin agar kehidupannya dapat
meningkat.
9. Pemberdayaan
(Penguatan) masyarakat
Kemampuan
masyarakat ditingkatkan melalui proses pengkajian keadaan, pengambilan
keputusan, penentuan kebijakan, peilaian dan koreksi terhadap kegiatan yang
dilakukan. Dengan demikian masyarakat memiliki akses peluang dan kesempatan)
serta memiliki kemampuan memberikan keputusan dan memilih berbagai keadaan yang
terjadi. Dengan demikian mereka dapat mengurangi ketergantungan terhadap bantuan
‘orang luar’.
10.
Santai dan informal
Penyelenggaraan
kegiatan PRA bersifat luwes, tidak memaksa, dan informal sehingga antara orang
luar dan masyarakat setempat terjalin hubungan yang akarab, orang luar akan
berproses masuk sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian kedatangan orang
luar tidak perlu disambut atau dijamu secara adat oleh masyarakat dan tokohnya
maupun oleh pemerintah setempat. Orang luar yang masuk harus memperhatikan jadwal atau waktu kegiatan masyarakat,
sehingga penerapan PRA tidak mengganggu kegiatan rutin masyarakat.
11.
Keterbukaan
PRA
sebagai metode dan perangkat teknik pendekatan kepada masyarakat masih belum
sempurna, dan belum selesai. Berbagai teknik penerapannya di dalam praktik
masih terus dikembangkan dan disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan
masyarakat setempat. Oleh karena itu berbagai pengalaman penerapan tersebut
diharapkan dapat memberikan sumbangan pemi kiran untuk memperbaiki konsep dan pemikiran
serta dalam merancang teknik-teknik baru sehingga sangat berguna dalam
memperkaya metode ini.
2.5. Struktur
Program
Karena tujuan penerapan metode PRA adalah
pengembangan program bersama masyarakat, penerapannya perlu senantiasa mengacu pada
siklus pengembangan program. Gambaran umum siklus tersebut secara ringkas
adalah sebagai berikut :
a. Pengenalan
masalah/kebutuhan dan potensi, dengan maksud untuk menggali informasi tentang
keberadaan lingkungan dan masyarakat secara umum.
b. Perumusan
masalah dan penetapan prioritas guna memperoleh rumusan atas dasar masalah dan
potensi setempat.
c. Identifikasi
alternatif pemecahan masalah atau pengembangan gagasan guna membahas berbagai
kemungkinan pemecahan masalah melalui urun rembug masyarakat.
d. Pemilihan
alternatif pemecahan yang paling tepat sesuai dengan kemampuan masyarakat dan
sumber daya yang tersedia dalam kaitannya dengan swadaya.
e. Perencanaan
penerapan gagasan dengan pemecahan masalah tersebut secara konkrit agar
implementasinya dapat secara mudah dipantau.
f. Penyajian
rencana kegiatan guna mendapatkan masukan untuk penyempurnaannya di tingkat
yang lebih besar.
g. Pelaksanaan
dan pengorganisasian masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan tingkat
perkembangan masyarakat.
h. Pemantauan
dan pengarahan kegiatan untuk melihat kesesuaiannya dengan rencana yang telah
disusun.
i. Evaluasi
dan rencana tindak lanjut untuk melihat hasil sesuai yang diharapkan, masalah
yang telah terpecahkan, munculnya massalah lanjutan, dll.
2.6.
Permasalahan PRA
Meningkatnya secara cepat popularitas PRA
dikhawatirkan menyebabkan sedemikian terburu-burunya menerima gagasan ini tanpa
pemahaman yang cukup mendasar akan prinsip dasar yang ada yang kemudian diikuti
dengan harapan yang terlalu tinggi akan keampuhan PRA. Oleh karenanya beberapa
masalah yang timbul akibat merebaknya penggunaan metode PRA adalah :
a. Permintaan
melampaui kemampuan akibat metode ini dilatihkan
dalam forum yang formal
tanpa cukup kesempatan untuk menghayati dan mendalami prinsip yang
mendasarinya.
b. Kehilangan
tujuan dan kedangkalan hasil akibat penerapan yang serampangan di lapangan
tanpa tujuan yang jelas.
c. Kembali
menyuluh akibat petugas tidak siap untuk memfasilitasi
partisipasi masyarakat.
Menjadi penganut fanatik karena tidak munculnya improvisasi dan variasi petugas
untuk menggali lebih dalam permasalahan di masyarakat.
d. Mengatasnamakan
PRA untuk kegiatan yang sepotong-potong di luar konteks program pengembangan
masyarakat.
e. Terpatok
waktu akibat program yang berorientasi pada target (teknis, administratif).
f. Kerutinan
yang dapat membuat kegiatan tidak hidup lagi sehingga terjebak dalam pekerjaan
yang rutin dan membosankan.
2.7.
Teknik-Teknik PRA
Dalam perkembangannya telah banyak dikembangkan
beberapa teknik PRA yang pada intinya merupakan bentuk implementasi dari metode
PRA. Sudah barang tentu teknik teknik yang dikembangkan tersebut disesuaikan
dengan maksud dan tujuan penerapan metode PRA sendiri, serta semestinya tidak
menutup kemungkinan atau bahkan dapat disebutkan mengharuskan adanya
improvisasi dan modifikasi terhadap metode PRA itu sendiri. Beberapa teknik
penerapan PRA anatar lain :
a.
Penelusuran Alur Sejarah,
b.
Penelusuran Kebutuhan Pembangunan,
c.
Analisis Mata Pencaharian,
d.
Penyusunan Rencana Kegiatan,
e.
Focus Group Discussion,
f. Pemetaan,
dll.
III.
PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Dari
Focus Group
Discussion,
hasil yang didapat adalah:
Tabel 2. Hasil analisis Focus Group Discussion.
Masalah
Utama
|
Sebab
Masalah
|
Akibat
|
Penilaian Masalah
|
Jumlah Nilai
|
Rangking
|
|||
Biaya
|
Penting
|
Umum
|
Bahan
|
|||||
Hama
|
Kurangnya perlindungan
dan teknologi
|
Produksi menurun
|
3
|
2
|
2
|
3
|
10
|
4
|
Penyakit
|
Air kolam yang
jarang diganti
|
Banyak ikan yang
mati
|
4
|
4
|
3
|
3
|
14
|
1
|
Pemasaran
|
Transportasi minim
|
Produksi susah
tersalur
|
3
|
2
|
2
|
3
|
10
|
3
|
Modal
|
Pendapatan terbatas
|
Tidak berkembangnya
usaha
|
4
|
3
|
3
|
3
|
13
|
2
|
Cuaca
|
Iklim yang tidak
menentu
|
Produksi menurun
|
2
|
2
|
1
|
1
|
6
|
5
|
Keterangan:
Biaya: (1)Sangat Murah. (2)Murah.
(3)Mahal. (4)Sangat Mahal.
Penting: (1)Tidak penting. (2)Kurang
Penting. (3)Penting. (4)Sangat Penting.
Umum :
(1)Tidak Umum. (2)Kurang Umum. (3)Umum. (4)Sangat Umum.
Bahan: (1)Sangat Sulit didapat. (2)Sulit didapat .
(3)Mudah Didapat. (4)Sangat Mudah Didapat.
Grafik 1. Permasalahan petani lele
dalam persentase.
3.2.
Pembahasan
Dari
hasil penerapan kegiatan Focus Group Discussion maka dapat dilihat berbagai
permasalahan yang dihadapi petani lele pada Tabel 2. Permasalahan tersebut
meliputi: hama, penyakit, pemasaran, modal, dan cuaca. Setelah dilakukan
penyusunan matrik rangking maka dapat diketahui juga bahwa masalah dengan poin
tertinggi yaitu Penyakit 14 poin, diikuti tertinggi kedua Modal 13 poin,
diikuti oleh pemasaran 10 poin, hama 10 poin dan yang terendah yaitu cuaca
dengan 6 poin. Pada permasalahan pemasaran dan hama memiliki poin yang sama
yaitu 10, namun untuk menentukan matrik rangking maka diambil permasalahan yang
sangat dominan dirasakan oleh petani, yaitu pemasaran.
IV.
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
PRA, sebagai metode yang banyak dipercaya oleh
beberapa kalangan cukup tepat digunakan dalam usaha pemberdayaan masyarakat, adalah
bukan suatu metode dan teknik yang benar-benar sudah fiks. Seandainya sebuah
buku, dalam metode PRA masih banyak terdapat halaman-halaman kosong, dimana
pembaca mempunyai dan bahkan diberi kesempatan untuk mengisi halaman kososng
tersebut. Hal tersebut memungkinkan pengembangan yang tidak terbatas terhadap metode
ini, dan itu bukan menjadi masalah selama prinsip dasar metode ini masih
menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan teknikteknik PRA. Pertimbangan
tersebut perlu ditekankan agar kita tidak terjebak lagi dalam pola lama yang
menjadikan suatu metode merupakan panduan atau petunjuk pelaksanaan teknis
(juklaknis) yang baku, yang tidak mungkin ada perubahan, yang kalau tidak
menggunakan dan mengikuti panduan tersebut artinya salah, dll, yang antara lain
seperti telah diuraikan dalam permasalahan yang mungkin muncul dalam penerapan
PRA.
Setelah
mengetahui permasalahan
Petani lele di desa Sialang Kubang, yang ditindak lanjuti dengan membuat kegiatan
atau program seperti
penyuluhan yang
dapat dijadikan sebagai solusi atas pemecahan permasalahan yang terjadi di desa
tersebut dengan teknik FGD (Foccus Group
Discussion).
4.2 Saran
Sebaiknya kegiatan ini sering dilakukan karena mampu
membantu mahasiswa/i untuk mengetahui keadaan petani/peternak secara langsung
dan mampu melatih mahasiswa untuk dapat berkomunikasi dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Chambers, R.
1996. Participatory Rural Appraisal: Memahami Desa Secara Partisipatif. Oxfam
– Kanisius. Yogyakarta.
Djohani, R. 1996. Berbuat Bersama Berperan Setara.
Driya Media. Bandung
Kumar, S. 2002. Methods for Commmunity Participation.
ITDP Publishing. London.
Mikkelsen, B.
2001. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan. Yayasan
Obor Indonesia.
Soetrisno, L. 1995. Menuju Masyarakat Partisipatif.
Kanisius. Yogyakarta.
LAMPIRAN
GRAFIK RANGKING PERMASALAHAN
Gambar.01. Notulensi mencatat FGD
yang sedang berlangsung
|
Gambar.01. Notulensi mencatat FGD
yang sedang berlangsung
|
Gambar.01. Notulensi mencatat FGD
yang sedang berlangsung
|
Gambar.01. Notulensi mencatat FGD
yang sedang berlangsung
|
Gambar.02.
Fasilitator sedang mengarahkan petani untuk melakukan FGD
|
Gambar.01. Notulensi mencatat FGD
yang sedang berlangsung
|
Gambar.04. Motivator sedang memberi
motivasi
|
Gambar.03.
Pemerhati yang sedang memantau FGD
|
Online Casino & Games - Kadang Pintar
BalasHapusPlay free casino games and win real money kadangpintar with 제왕 카지노 Kadang 메리트카지노 Pintar. Get 100% bonuses on your first deposit!